Gallery Photos

Apa Arti Krisis Dubai Bagi Sistem Keuangan Syariah

Oleh: Hendro Wibowo SEI
Dosen STEI SEBI

Dubai World suatu perusahaan investasi yang mengelola dan mengawasi portofolio bisnis dan proyek milik pemerintah Dubai yang tersebar di berbagai area industri untuk mempromosikan Dubai sebagai penghubung untuk perdagangan dan transaksi serta pusat pariwisata dunia. Pimpinan dari dubai world adalah Sultan Ahmed bin Sulayem. Dubai world memiliki proyek yang bermegah-megah dalam sektor property dengan membangun gedung-gedung mewah bertingkat, dimana dana tersebut sebagian dari hasil booming harga minyak serta porsi yang terbanyak berasal dari pembiayaan sukuk dan obligasi. Tujuan awalnya memang untuk menarik investor untuk memiliki property di sana dan menjadikan Dubai sebagai pusat perdagangan dan pariwisata di timur tengah.
Pada tahun 2006 yang lalu, Dubai World demi merealisasikan bisnisnya tersebut berhutang dengan mengeluarkan surat berharga dalam bentuk pembiayaan dari sukuk dan surat hutang yaitu obligasi sebesar 30,5 Miliar dolar AS, kemudian hingga pada tahun 2010 meningkat hutangnnya menjadi 60 Miliar dolar AS yang harus ditanggung Dubai World. Bila termasuk bunga, beban yang harus ditanggung grup perusahaan dukungan pemerintah itu totalnya menjadi sekitar 80 miliar dolar AS, dimana dari dana tersebut salah satunya diperuntukkan untuk pengembangan tiga khas pulau berbentuk palem di Emirat. Dari total hutang yang diperoleh sebesar 30,5 Miliar dolar AS ditahun 2006, diantaranya berasal dari sukuk yang mana Dubai World menerbitkan sukuk Nakheel (merupakan anak perusahaan dari Dubai World) sebesar 3,52 Miliar dolar AS dengan jatuh tempo selama 3 tahun tepatnya pada tanggal 14 Desember 2009 dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Pada suatu saat sebelum jatuh tempo, pemerintah Dubai mengumumkan bahwa harus ada restrukturisasi (penundaan membayar) selama 6 bulan (sehingga tepat pada bulan mei 2010), sehingga asumsi investor yakni lembaga keuangan di Abu Dhabi dan berbagai bank besar asal Eropa, terutama Inggris, seperti Royal Bank of Scotland, HSBC, ataupun Standard Chartered, beranggapan bahwa sukuk tersebut akan dijamin oleh pemerintah namun setelah itu pemerintah membatahnya bahwa sukuk dubai tidak dijamin oleh pemerintah.
Mengapa perlu restrukturisasi
Berdasarkan Laporan keuangan Nakheel sendiri mendapat opini wajar dengan pengecualian dari Ernst & Young pada 5 November 2006. Sedangkan laporan laba rugi pada 6 bulan pertama tahun 2006 mengalami kerugian sebesar -98 juta AED, dimana jika dikurskan dalam bentuk dolar AS, dimana 1 AED = 0,272238 USD jadi dikurskan sekitar sebesar -26,7 juta dolar AS. Sedangkan pada tahun 2005 sebesar -331,7 juta AED atau -90 juta dolar AS, tahun 2004 sebesar -205,3 juta AED atau -55 juta dolar AS dan tahun 2003 sebesar -62,4 juta AED atau sekitar -16 juta dolar AS. Walaupun demikian, jumlah sukuk sebesar 3,52 miliar USD pada dasarnya relatif kecil bila dibandingkan dengan modal Nakheel yang sebesar sekitar 18 miliar USD. Sehingga masih dapat dikatakan wajar jumlah nominal sukuk yang dikeluarkan, tetapi tanggapan para investor dan pasar berbeda dikarenakan pemerintah Dubai secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo.
Positif dan Negatif Krisis Dubai
Dengan pemerintah dubai mengumumkan bahwa dubai world merestrukturisasi pembayaran sukuk yang telah jatuh tempo selama 6 bulan yakni pada bulan mei 2010, maka berdampak pada sentiment pasar terutama dalam pasar penawaran sukuk. Pertama, masalah tentang likuiditas, dimana respon investor adalah bisa merespon secara negative, dimungkinkan investor banyak yang menjual sukuk nakheel dengan harga yang rendah, dibawah harga semula pada saat membeli sukuk, tentu hal ini sangat merugikan bagi investor itu sendiri. Kedua, adalah paradigma masyarakat terhadap instrument syariah bisa melemah bahkan sampai mencapai titik terendah yaitu hilang kepercayaan masyarakat terhadap investasi syariah dan turunnya para penggiat ekonomi syariah untuk mensosialisasikan kembali untuk ekonomi syariah sebagai suatu system yang dapat menciptakan distribusi dan keadilan dalam perekonomian. Ketiga, Dubai world adalah perusahaan terbesar penerbit sukuk di asia dimana salah satu pakar pasar saham adalah hariyajid mengungkapkan dengan obligasi Dubai World yang default “Pasar tentu akan merespon dan terjadi koreksi. Akan banyak investor yang akan menjual saham, khususnya bagi mereka yang memiliki porsi margin besar.
Dampak positif bisa muncul, terutama bagi Negara asia seperti Indonesia dan Malaysia, salah satunya adalah dampak positif pertama, adanya capital inflow dimana investor timur tengah akhirnya banyak beralih dan mengalihkan dananya untuk investasi di asia tenggara dengan instrument yang sama yakni sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Kedua, bisa jadi investor domestik dari Indonesia tertarik untuk membeli sukuk dubai dengan harga yang rendah, dengan harapan bahwa tahun mendatang harga sukuk menjadi lebih meningkat dari harga sebelumnya.
Dengan adanya asumsi dampak negative dan positif dari peristiwa sukuk di dubai, membuat semua para praktisi dan akademisi ekonomi syariah untuk lebih berhati-hati terutama pada sharia compliance pada penerapan system keuangan syariah.
0 Responses

Posting Komentar

SEBI's Group